Anda Pengunjung Ke :

Rabu, 20 Mei 2015

Bintang Bawah Langit

Hari itu saya sangat lelah tapi perasaan saya begitu bahagia. Hari itu saya merasakan nikmatnya melihat kebahagiaan dan tawa teman-teman saya. Hari itu saya tidak menyesal telah berlelah-lelah. Tuhan membayarnya lebih dari cukup.

Hari itu dia pun terlihat sangat lelah. Tapi saya bisa melihat ada kepuasan di wajahnya yang datar itu. Sepertinya dia merasakan hal yang sama dengan saya saat itu.

Tiba-tiba matahari sudah hampir tenggelam. Saya, dia, dan tim kami yang lain memutuskan untuk segera pulang meninggalkan tempat yang cukup jauh dari kota itu.

Langit senja saat itu begitu indah, walaupun mendung cukup berhasil menutupi pemandangan matahari tenggelam yang kami nantikan. Seperti orang-orang pada umumnya, saya selalu terpesona dengan langit. Dia fokus mengendarai motornya, sementara saya masih terpana dengan gradasi warna langit senja..

Dia memutuskan menghentikan motornya disuatu lapangan luas. Rupanya dia begitu penasaran dengan pemandangan langit malam hari yang tidak biasa ditempat itu. Saya sebagai penikmat langit dan sebagai penumpang tentu mengiyakannya.

Senja pun berganti malam, pemandangan malam yang kami tunggu itu perlahan terlihat. Langit gelap dengan bintang bintang bertaburan. Yang membuatnya berbeda adalah bintang-bintang itu ada di bawah. Bintang-bintang itu adalah lampu lampu perkotaan yang tersusun rapi seperti gugus bintang jika dilihat dari bukit tempat saya dan dia berdiri.

Saya dan dia hanya diam saat itu. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia mungkin sedang menikmati langit malam itu. Ngomong-ngomong tentang langit....

"Begitulah naik gunung. Kamu harus nyobain kapan-kapan. Saat mendaki memang berat dan lelah luar biasa. Tapi ketika kamu sudah sampai dipuncak, kamu dibayar dengan pemandangan yang luar biasa indah. Dengan bintang-bintang bertaburan, dan rasa lelahmu terbayar" terangnya.

Kapan-kapan saya harus mencoba naik gunung, lagi-lagi hanya untuk menikmati langit. Pikirku.

Dia kembali menatap bintang-bintang bawah langit, aku melihat dirinya sesekali. Bahagia sekali.

12 Mei 2015, perjalanan menuruni Bukit Moko, Bandung.

Tidak ada komentar: