Anda Pengunjung Ke :

Rabu, 23 Juni 2010

Semua Orang Punya Kelebihan..... dan Kekurangan

Dari dulu aku suka banget liat orang orang yang nunjukin bakat atau kelebihannya di depan umum, paling suka liatin orang lagi nyanyi, modeling, dan tentu saja orang orang terkenal yang biasa jadi pembawa acara dimana mana. Aku liat mereka itu kagum banget, dan selalu ngerasa, kurang apa orang orang tadi? They are perfect. Gara gara anggapan ini, aku jadi minder sendiri, karena menurutku aku ga punya kelebihan yang menonjol.

Hari ini, aku gak sekolah gara gara salah kostum, aku bener bener lupa hari ini hari rabu, kukira hari kamis, jadi aku pakai batik. Parah. Akhirnya mama ngajak aku nonton fashion show busana muslim modern, kebetulan adekku ikut kategori TK. Untungnya hari ini aku bawa baju ganti, jadi ganti baju di mobil, dan nonton acaranya itu. Pas aku dateng acaranya udah mulai, yang kategori TK, lucu banget anak kecil lenggak lenggok di panggung. Ada yang tegang, sampai gak bisa gerak dan gak tau mesti ngapain, itu adekku. Pinter banget deh masih kecil gitu udah biasa tampil di depan umum, berani, dan aku iri pasti. Baju yang mereka pakai bener bener gaun muslim, untuk yang cewe, semuanya di make up, dan memasang senyum paling manis.

Aku ambil tempat duduk di belakang, kebetulan di barisanku aku Cuma sendiri, terus dateng ibu ibu bareng 2 anaknya, mereka bertiga duduk disebelahku, persisnya anaknya yang perempuan disebelahku, yang laki laki disebelah yang perempuan, lalu ibu tadi di sebelah anak laki lakinya. Kalo liat dari pakaian, sudah pasti 2 anak ibu ini ikut fashion show, kategori SMP tapi. Yang perempuan cantik banget pakai gaun warna merah, dengan dandanan yang pas dan senyum yang baik, yang cowok apalagi, berbusana muslim hitam, dan senyum yang... manis, putih lagi dua duanya. Uuuu, beruntungnya ibu ini punya anak yang cantik-ganteng, dan berani tampil. Yaa seperti biasa aku anggep 3 orang disampingku ini, orang yang... perfect.

Sesekali aku liat ke arah mereka, mereka juga liat ke aku, tapi aku langsung buang muka, malu. Tapi karena sering liat liatan, akhirnya aku sapa cewek disebelahku. “Hey, ikut kategori apa mba?” aku pura pura gatau, cewek  ini bukannya jawab, malah senyum aja ke arah aku. Aku bales senyum lagi, mungkin dia gak denger aku ngomong apa. Lalu aku tanya sekali lagi, dan dia senyum lagi, aneh nah dia. Terus mamanya nengok ke aku, aku kaget, terus mamanya nyolek aku, kata beliau, anaknya itu tuna wicara alias bisu. Astaga, aku jadi ga enak, daritadi ngajak ngobrol, rupanya dia juga tuli. Dan aku gak berani ngajak dia ngobrol lagi. Lalu anak cowok disebelahnya ngajak dia kemana gitu aku gatau, jadilah tinggal aku sama ibu mereka. Akhirnya kami ngobrol. Ternyata 2 anak ibu tadi saudara kembar, dan dua duanya tunawicara. Astaghfirullah dalam hati.

Dan memang bener, mereka berdua jadi pusat perhatian di acara itu, berkomunikasi dengan gerakan tangan dan ekspresi wajah, banyak juga yang memoto mereka. Aku bangga aku duduk disebelah mereka berdua. Haha. O iya mamanya juga ada bilang ke aku “Tapi mbak, biar mereka tidak bisa berkomunikasi dengan baik, saya gamau nyerah sama keadaan mbak, saya mencari bakat mereka, dan Alhamdulillah mereka cukup berprestasi loh di bidang modeling.” Kata ibu tadi dengan sangat bangga.

Dan dari situ, aku liat contoh langsung, kalau setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing, jangan nyerah dengan keadaan, dan yang paling penting itu BERSYUKUR, kita masih diberi kesempurnaan fisik dan kelebihan. Temukan dan kembangkan kelebihan itu, pergunakan sebaik baiknya nikmat itu. Wahaha, sok jadi motivator deh aku disini.
Oh iya pas disana pada liatin aku loh, atau perasaanku aja aku gatau. Pada liat tulisan di kaosku. Tulisannya = “INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2010” . Ada yang nyapa aku tanya umurku berapa, aku bialng “umur saya 14 tahun bu.”  “Ah masa sih? Kok muda banget?” kata seorang ibu ga percaya. Dalam hati aku mikir emang aku keliatan tua sampai ibu tadi gak percaya aku 14 rahun, aku mikir bentar, ternyata gara gara aku pake kaos ITB. Tau gitu aku bilang ke ibu tadi “Saya Profesor 14 tahun, bu.” Haha -----

Sabtu, 19 Juni 2010

Surat Untuk Om Dani

Tanggal 18 kemaren om dani, guru les, pindaaaaah, semuanya sedih, aku juga. Sebelum pindah kita sempetin bikin kerikatur ama surat buat om dani. agak lebay sih, pasti pada beranggapan kalo cuma guru les aja loh yang pindah ngapain di kasih kenang kenangan. tapi kami gak pernah anggap itu lebay. oke, ini isi suratnya :


To : Om Dani
Hari ini, tanggal 17 Juni 2010, satu hari sebelum guru les kami tercinta pindah ke Yogyakarta. . . .
Rasanya sedih banget kalau harus pisah dengan orang yang sudah dekat dengan kita. Itu pula yang kami rasa saat tau kalau Om Dani harus pindah ke Yogya. Kami masih ingat, pertama kali om memberitau kabar sedih ini pada tanggal 18 Mei 2010. Kami semua kaget dan terus menerus memaksa om dani agar tidak pindah. Awalnya kami tidak percaya dan lebih tepatnya tidak terima. Tapi lama kelamaan kami mulai ngerti.

Masih ingat juga dulu saat pertama bertemu om dani. Kesannya hanya seperti guru les biasa saja, guru yang ramah, dan tentu saja baik pada muridnya. Kesan pertama yang wajar karena kami belum dekat.

Akhirnya lama kelamaan kami mulai dekat dan “berani” pada om dani, om dani juga seperti itu. Kami mulai saling mengenal dan bercanda ringan setiap kali les. Dan semakin lama lagi, kami juga semakin dekat lagi dengan om dani, dan kami jadi rajin les karena kami rasa om dani menyampaikan meteri ke kita dengan baik dn menyenangkan.

Karena sudah saling kenal dan mulai saling mengerti, om dani dan kita jadi sering sekali bercanda, saling sindir, dan saling olok satu sama lain. Tidak ada rasa canggung sama sekali. Dan pasti yang tak akan dilupakan itu cerita alimah dan kiki, rachel dan anggara, serta ihsan dan titam. Tak ada pula yang tersinggung jika kita bercanda, menyindir, bahkan mengolok. Itu pula yang membuat suasana les di artha 4 sangat menyenangkan, dengan guru yang profesional seperti om dani, dan anak anak yang profesinal pula seperti kita :p.

Om dani juga sering banget menyiptakan kosa kata baru buat kita, gurauan sederhana tetapi kocak, rumus rumus cepat, dan cerita pengalamannya sewaktu kuliah yang sangat menarik dan membuat semua yang mendengarnya tertawa.

Pernah saat om dani tidak mengajar selama seminggu, dan kami digantikan dengan guru lain. Sama sekali beda dengan om dani. Guru tadi kesannya seperti membiarkan kita mau ngapain aja. Ada yang main hape, cerita ribut nyanyi sama sekali tidak ditegur, beda dengan om dani yang selalu memperhatikan apakah kita sudah mengerti atau belum, selalu menjawab semua pertanyaan yang kami berikan, dan kesannya bagi kami om dani akan menjelaskan pelajaran pada kami dengan bahasa yang nyaman di dengar, simpel dan membuat kami paham dengan cepat semua pelajaran. Saat satu minggu om tidak mengajar kami, hari terakhir dalam minggu itu, kelas kami sepi, saat ditanya pada anak anak yang lain kenapa tidak mau les semuanya menjawab sama “kami Cuma mau les kalau sama Om dani.” Itu kami katakan lama sebelum kami tau om dani harus pindah ninggalin kami.

Kami pun sering sekali saat disekolah ngebanggain om dani, contoh: “anaknya om dani dong nilainya tinggi tinggi” atau “mau pintar? Les sama om dani!” kocak mengingatnya. Semuanya setuju mengatakan om dani itu seru, profesional, baik, lucu, humoris, gaul, rame, kadang kalau marah serem juga, tapi kami tau maksud om dani marah itu baik, dan yang paling beda, kami ngerasa om dani bisa ngajar apa aja, semua yang kami tanya dijawab dengan jawaban yang tepat dan tentu saja logis, tapi kadanga kadang ga logis juga. Om dani selalu bisa membawa suasana kelas menjadi tidak tegang, pelajaran yang sulit pun terasa mudah setelah dijelaskan oleh om dani.

Itulah beberapa alasan yang membuat kami tidak ingin om dani pindah. Karena kami akan kehilangan satu orang yang mempunyai warna berbeda di hidup kami. Seseorang yang memperhatikan kami walaupun kami bukan anaknya, seseorang yang sering mendengarkan cerita panjang kami, dan seseorang yang sering memberi kami inspirasi dari cerita cerita yang lontarkannya.

Kalau harus mengingat om dani akan pindah, sampai hari ini pun kami sangat sedih, kami harap om dani tidak pernah lupa dengan kami, kami anak anak yang sering dikatakan sebagai anak anak kelainan oleh guru guru kami, anak anak yang sering kurang ajar sama om dani, anak anak yang cerewet dan hanya bisa bikin om dani marah. Jangan pernah lupa dengan kami. Kami harap, kami bisa bertemu om dani lagi kapan kapan, berbagi cerita lagi, bercanda lagi, dan saling mengolok lagi. Dan om dani harus tau WE LOVE YOU, 3 kata sederhana yang memiliki arti luar biasa bagi yang mengucapkan dan yang diucapkan.

Sekian kata terakhir dari kami,

-Artha 4 kelas 8 RSBI tahun ajaran 2009/2010-

Senin, 14 Juni 2010

Satu Toilet

Sebelumnya saya ingin memberitau kalau postingan ini benar eadanya tanpa ada unsur di curangi (?) tanpa ada unsur rekayasa.

Kemaren aku jalan ama kakakku ke mal fantasi, nyari film bagus, yang pastinya bajakan. Setelah pusing keliling di mall sepi (?), film yang kita cari ga ada, muncul niatan nyari di tempat lain. Pas pergi tuh bajuku ga enak banget, gak mecing (gatau tulisannya) baju ama celana, kakakku juga bajunya lebih ala kadarnya lagi. Terus mataku yang indah ini liat celana yang di pake kakaku mecing ama bajuku. Ide pun muncul. Aku minta tukeran celana ama punya kakakku sebelum kita nyari film di tempat lain, dan kakakku setuju. Kita muter muter gak karuan nyari toilet, akhirnya ketemu setelah muter muter mall setengah jam. Kita bingung, gimana caranya ganti celana di toilet situ. Dan otakku memproduksi ide lagi, aku bilang ke kakakku “kita masuk toilet bedua aja, lalu tukeran celana, oke?” kakakku dengan imutnya bilang iya iya aja. Kebetulan di toilet Cuma ada 2 orang, yang satu dalem toilet, yang satunya lagi masih ngaca mandangin wajahku (?).

Akhirnya yang ngaca tadi keluar, aku & kakakku langsung masuk ke dalam toilet, cepet cepaet tukeran celana, lama sih di dalem toiletnya, habis sempit. FYI, kakakku sejenis sama aku = perempuan tulen. Udah selesai tukeran celananya, tiba tiba di luar tuh kedengaran rame banget, ada dua orang lebih lah yang dalam kamar mandi wanita (aduhai bahasaku). Bingung sudah aku gimana cara keluar dari toilet, kalo Cuma keluarnya aja sih gampang, tinggal buka pintu terus keluar, tapi masalahnya aku sama kakakku bedua dalem satu toilet. Pas itu aku mentok, otakku lagi lelah memproduksi ide. Awalnya aku bilang tunggu aja dulu bentar, tapi udah lama perasaan tambah rame aja di luar. Rencana kedua, aku keluar duluan, lalu kakakku nyusul. Tapi kakakku gamau, katanya untung di aku keluar duluan. Kita bingung, kita terjebak dalam wc berdua. Lalu akhirnya dengan penuh keberanian, aku pegang kenop pintu nya aku putar dan JEGLEK!!! Mati lampu!!!!! Pas banget timingnya, langsung aku buka pintu toiletnya aku tarik tangan kakakku dan kita keluar dari wc dengan selamat tanpa harus menanggung malu. Benerantuh wc kalo mati lampu gelap bet, jadi kayaknya ga ada yang liat aku ama kakakku keluar dari 1 wc. Kita keluar, lari ke parkiran motor langsung dan pergi ke mall yang lain. Oh iya, pas seaat setelah aku keluar dari toilet itu, lampunya nyala, huff lega, ternyata benar, Tuhan maha adil dan Tuhan maha penyayang hamba-Nya yang cantik (?)

Jumat, 04 Juni 2010

Olim Sinting Part 4 : Mas Wahid


Malem tanggal 31 Mei, penghuni kamar 210 pada sibuk belajar sambil olok olokan. Pokoknya bener bener ketawa dan buku yang kukerjain bener bener ga masuk. Tapi aku selalu inget pesan Bu Lis *ceilaah, kata Bu Lis jangan tidur terlalu malem ya biar pas lomba gak capek, aku udah rencana pengen tidur jam setengah 11, tapi ngeliat penghuni 210 yang lain masih pada bekajar sambil ngegila, aku jadi susah tidur, jadilah aku guling guling di kasur sambil ngerjain buku soal.
                Lagi asik ngerjain soal, bu Lis nelpon, nyuruh aku ke kamarnya, katanya Bu Lis punya buku bagus gitu. Awalnya aku minbta temenin Radit ke tempatnua Bu Lis, habis kamarnya Bu Lis jauh banget dari kamar 210, kamar Bu Lis nomer 417, 2 lantai diatas kamar 210, itu kira kira jam setengah 11 lah. Ngeri banget jalan sendirian di hotel gede, naik lift juga sendirian, pokoknya tiap pintu lif mau kebuka, aku pasti tutup mata, takut kalo ada apa apa di dalam lift. Dan akhirnya setelah melewatoi lorong panjang, sampai dikamarnya Bu Lis, FYI, kamarnya Bu Lis bener bener diujung lorong, aku takut sumpah lewat situ.
                Aku ketok pintunya, terus Bu Lis yang buka nyuruh langsung masuk aja, eh ada cowo disitu, kukira itu anak didiknya Bude pertamanya. Terus aku duduk, dikarpet, bu Lis ngasih bukunya, aku masih ngeliatin cowo yang duduk sebelahnya Bu Lis lagi ngebungkus sesuatu, giginya rapi men. Terus aku Bude, Bu Lis, ama cowo yang aku ga tau siapa tadi itu ngobrol rame. Lagi ngobrol gitu tuh cowo tiba tiba nyenggol bu lis ters ngomong “bu, ibu...” oalaaaah, ternyata itu anaknya Bu Lis yang pertama, namanya Wahid, tapi Bu Lis manggilnya mas Wahid. Wahaha, ganteng juga sih, tapi aku ngeliatnya Cuma sekilas aja. Terus pas aku mau balik ke kamar lagi, bu Lis ngasih kue pisang keju ke aku, kata Bu Lis bagi bagi ama yang lain. Terus Bu Lis nanya “Pebi berani gak balik ke kamar sendiri?” terus aku jawab “ga berani bu” (padahal pengennya bu Lis nyuruh mas Wahid nganterin :p) haha, tapi ujung ujungnya aku balik ke kamar sendiri.
                Aku ke kamar 210 dan langsung cerita kalo ada anaknya bu Lis di kamar bu Lis, kubilang ke mereka anaknya ganteng, giginya rapi, anak kuliahan gitu. Beh, Indri paling antusias denger ceritaku, pengen langsung liat mas Wahid. Jadilah kita menyusun rencana biar bis bareng bareng ke kamar Bu Lis terus liat mas wahid, sayangnya Icha ama Mauli kurang tertarik. Dan beginilah rencana bodoh itu:

Olim Sinting Part 3 : Penghuni Kamar 210, teman satu malam

Pas nyampe di hotel, masih pada bingung masalah pembagian kamar, pokoknya yang kami tau, perempuan dari balikpapan dapet kamar nomer 210 ama 219, kita disuruh ama Bu Lis ke kamar 210, terus kita masuk ke kamar 210, beh banyaknya orang dalem situ, kaya tempat penampungan, haha, gak sepenuh itu kok. Pas itu dalemnya ada dua anak dari SMP KPS, 3 guru, 1 anak Istiqamah terus ditambah kita betiga. Tapi ternyata guru pendamping gak dapet jatah kamar hotel, otomatis gak mungkin sekamar ama peserta olim.
                Oh iya, gara gara guru ga dapet jatah kamar itu, akhirnya Bu Lis ama Bude booking 1 kamar lagi demi sehotel ama kita (aku farras radit), terus bayar sendiri lagii, so sweeet :’) . Yap akhirnya jadilah sisa 6 orang perempuan cantik di kamar 210. Ada aku, Farras, Radit, Indri, Mauli ama Icha, kita berenam bener bener cepet banget jadi dekat, pokoknya ber enam terus deh. Hmm, aku kenalian aja kali ya penghuni kamar 210     :
  • Aku        : My name is Pebriani Artha and I am not a terorist!
·        Farras    : Temen sekelasku, ikut olim IPS, peringkat 2 se Balikpapan, gila, heboh, teraniayaya, suka banget depan hape. Paling bingung ngegunain barang di kamar, susah tidur, suka bnaget eyeshield 21, dia digosipin ama isan (aku gak terima), wajahnya sering abstrak.
·        Radit      : Anak 8 SBI 1, ikut olim biologi, peringkat 3 se Balikpapan, cantik, bekacamata, bisa apa aja, paling dewasa (ceilaaah).
·        Indri       : Anak dari SMP KPS, namanya Indriyani Rachmasari atau rahmawati gitu aku lupa, dia suka nyingkat namanya jadi Indria Rachma. Anaknya hypergila, sinting, korban film, korban sinetron, korban iklan, gaul, cantik, ikut olim IPS, peringkat 3 se Balikpapan, kalo teriak paling heboh, ceplas ceplos, cinta mati ama cowonya à Fikiih. Dan yang paling bikin aku kaget ternyata dia baru kelas 7. Bener bener ga percaya. Terus dia selama di smd, digosipin terlibat cinlok ama bapak bapak, namanya pak Tanjung.
·        Mauli     : Anak dari SMP KPS, ikut olim Biologi. Pendiem, baik, nurut banget sama kita terutama sama Indri. Rajin sholat. Dan sama kaya Indri, dia masih kelas 7. Hebat hebat eh anak KPS, kelas 7 udah ikut olimpiade sampai provinsi lagi.
·        Icha        : Anak dari SMPIT Istiqamah, ikut olim Fisika nomer 5 se Balikpapan, temen SD ku looh, yang jelas dia pinter, suka ketawa diem diem, lumayan diem.
Kita ber enam kenal siang, sorenya udah deket banget, apalagi kalo udah Indri ketemu Farras, apa gak ngakak semua, Indri lagi hobi banget niruin adegan di tv, orang lagi patah hati, orang lagi jatuh cinta ditiruin semua. Bener bener deh penghuni kamar 210 anaknya gila semua, tapi biar gilanya beda beda, tetep bis deket dong. Haha.
        Aku juga inget banget pas sorenya perutku mules banget, dan ternyata aku haid. Anto. Kalangkabut aku sudah gak bawa softex, indri sih punya rencana ke mini market, tapi aku ngecek dulu ke Bu Lis dan ternuaya bu Lis bawa banyak. Pas mau ke kamar bu Lis semuanya nemenin aku padahal yang perlu softex Cuma aku.
        Pas malemnya kita semua baru bisa tidur kira kira jam setengah 2, gara gara ngobrol ama ketawa semaleman. Bangun paginya juga langsung ketawa lagi, gara gara Indri ditelpon pasangan cinloknya à pak Tanjung.
Bersambung loh !

Olim Sinting Part 2 : Ayam Gepuk

Masih cerita tentang pengalaman olimpiade sinting. Pas sampai di hotel grand sawit, kita langsung disuruh sholat zuhur. Habis sholat ngerapiin barang barang, oh iya, aku bawa koper loh, padahal acaranya cuman 2 hari, koperku isinya banyak barang antisipasi. Sekiat jam 2 siang gitu, kita belum pada makan, langsung deh pake mobil zaky nyari makan. Masih bingung mau makan ayam bakar atau ayam gepuk, tapi cari yang paling deket aja ama hotel, jadilah kita makan di rumah makan ayam gepuk.
                Aku, seorang anak yang lumayan katrok, belum pernah nyobain ayam gepuk sama sekali. Aku liat yang lain pada mesen ayam gepuk, aku penesaran juga sih rasanya ayam gepuk kaya gimana, akhirnya aku ikut ikutan aja pesen ayam gepuk.
                5 menit kemudian pesenan datang, hmmm, sumfeh wangi banget ayamnya, kayaknya bener bener enak. Aku udah gasabar pengan makan sampai lupa bedoa, tapi jadi inget gara gara liat radit bedoa dulu. Aku bedoa sebelum makan dulu, lalu mulai nyolek ayam gepuknya itu. Daaan, ahhhhh huuu haaaa hiiiii, pedes gila. Ini sama kaya keripik super pedes yang pernah dikasih “our mom” à Bu Diah Puspandari dulu yang aku sampai nangis nangis saking pedesnya, bahkan nih ayam lebih pedes lagi. Pertamanya aku coba tahan tahan aja pedesnya, tapi beneran pedes banget, es jeruk disampingku juga mau habis. FYI aja, itu semuanya ditraktir Bu Lis, mau gak mau, pedes gak pedes, harus kumakan sampai habis. Dengan sekuat tenaga aku paksa makan, daaan, ueks uhuk uhuk, aku nangis, bukan, lebih tepatnya keselek cabe sampai nangis nangis. Beneran keselek cabe rasanya ga enak banget, mukaku keringatan, tenggorokanku sakit, mataku berair banjir. Untungnya itu makanan ngehot uda habis. Habis itu kau habisin es jeruk, esbatunya ku emut semua, tapi tetep aja pedesnya masih berasa  -,-
                Tapi menurutku labih kasian lagi si zaky. Dia keliatannya juga ga tahan pedes, baru dia makan tuh makanan ngehot gak nyampe separo, minumnya udah habis. Dia sama kaya aku, ngemut es batu semuanya, tapi dia keliatan bener bener kaya orang gak minum setahun. Zaky nambah 1 gelas lagi es jeruk, dan makanannya baru dikit yang dia makan, dia juga makan es batu kelewatan banyak dah. Dan zaky gak sanggup ngabisin ayam gepuk super hot, terus katanya dia pusing gitu dan kita pun balik ke hotel.
                Kira kira satu jam setelah pulang dari makan ayam gepuk super hooot, kita (Aku, Farras, Radit) dapet kabar dari Bu Lis kalo zaky sakit demam. Aku pun menganalisis *sok conan , kalau menurutku itu gara gara kebanyakan makan es batu ama cuaca yang ga buagus, dan zaky banyak makan es batu kan gara gara ayam gepuk.
                Gara gara kejadian aku keselek cabe  + zaky sakit demam, aku jadi gamau makan sambel sama sekali, dan juga gak akan makan ayam gepuk lagi. Aku kapok!
Bersambung loooh !

Olim Sinting Part 1 : Mobil Zaky

Postingan ini sebenarnya telah dibuat pada tanggal 02 Januari, tapi baru sempat diedarkan sekarang. Aku, saking cintanya ama metik *ceilaaaah, aku ikut olim metik, dan Alhamdulillah lolos sampai provinsi. Gak nyangka banget bisa sampai provinsi, soalnya setauku anak anak spansa, terutama Amat, jago banar metiknya, tapi bersyukur aja deh.

Olim nya diadain tanggal 31 Mei -1 Juni (baru nyadar sama kaya tanggal Sidang BPUPKI pertama, aku jadi soekarno disini, oke ini gapenting). Tanggal 31 nya, hari Senin itu masi ngumpul disekolah, minta doa, minta duit, dan dikasi duit ama kepsek. Dari SMP 1 ada 4 orang, aku metik, Farras IPS, Radit Biologi, Zaky Fisika, plus satu guru pendamping yang paling baik yang paling cantik yang paling lucu  Bu Lis. kita berangkat pake mobilnya zaky ke Samarinda, berangkatnya sekitar jam 10 pagi dengan mobil avanza aku lupa warna apa. Ternyata ada guru dari SMP 7 mau ikut, aku ga tau namanya jadi panggilnya Bude aja.

Posisi di mobilnya zaky itu paling depan ada supir ama Zaky, tengah itu ada Farras, Aku, Radit, di belkang ada Bude ama Bu Lis. Padahal Bu Lis mau duduk ditengah, tapi aku ga mau ngalah, padahal Bu Lis orangnya suka mabok, memang saya murid yang tahu (tempe) diri. Mobil mulai jalan sekitar 8 km dari sekolah, kita di mobil masih pada diem dieman, paling ngomong dikit seperlunya, pada asik main hape, zaky aja yang paling rajin di mobil masih aja ngerjain soal fisika, memang zaky murid yangberprestasi *apadeh.

Mulai masuk ke daerah kilo kiloan, ibu ibu dibelakang mulai bekisah. Kebanyakan sih gosipin kepsek, mulai dari tuh kepsek lahir ampe tua kaya sekarang di ceritain sejarahnya. Aku ga inget persis, pokoknya selama perjalanan kerjaanku Cuma ngakak dengerin cerita ibu ibu dibelakang ngegosopin kepsek. Habis dari ngomongin kepsek, diseling dengan bagi bagi bekal, Bu Lis ngasih rebung asin gitu, kata Bu Lis, kalo masak masakan yang asin asin berarti mau kawin (dalam hati ngomong apa hubungannya?) terus cerita dilanjutin dengan cerita tentang anak masing masing, dan aku masih jadi pendengar sejati. Yang paling aku inget itu pas Bu Lis nyeritain anaknya yang pertama ama anaknya yang ke dua. Menurut info yang berhasil kuserap, anak pertamanya itu pinter (banget), baik, sabar, terus kalo anak keduanya itu pinter, sombong, ama gak sabaran. Tapi itu gapenting. Ibu ibu dibelakang kalo ngomong seru banget, aku jadi kupingers sejati aja, ada pas Bu Lis ama Bude ketawa gede, aku ikutan ketawa padahal gatau apa yang lucu, habis ketawa ibu ibu dibelakang unik unik. Habis ngomongin anak masing masing kembali bagian favoritku  bagi bagi makanan, yeahaa.

Ada juga ditengah perjalanan, radit kebelet, kita uda minta berhenti kalo ada mesjid, tapi entah lupa ato males berhenti, udah banyak mesjid yang lewat, kasian radit ntar ngompol. Farras nyuruh pipis di botol aja, tapi kata radit, kalo cewe pipis dibotol ntar pipisnya kemana kemana, terus aku sambung “iya ras gabisa, cewe kan itunya gak kaya punya cowo yang bisa dimasukin ke botol”. Haha apadeh omongan jadi ngelantur. Akhirnya dapet mesjid, aku juga ikutan turun, kebelet pipisnya radit ternyata nular ke aku, awalnya aku mau ngantri pipis habis radit, tapi radit lama, jadi akkhirnya aku pipis di kamar mandi cowo. Tapi persaan gak ada bedanya ama kamar mandi cewe, jadi ga masalah dong.

Sekitar jam setengah satu gitu sampai di Samarinda, dengan tujuan langsung ke Hotel Grand Sawit, tapi gak ada satupun yang tau persis tuh hotel dimana, kita semobil berharap ama Bude & Radit yang kita tau paling tau tentang samarinda. Lumayan lama nyari hotel doang, kukira nyasar dikota, tapi gamungkin, tapi berkat mamanya radit, nyampe deh ke hotel, padahal mamanya radit gak ikut loh, hebat, mungkin beliau punya kemampuan melacak keberadaan anaknya.

Beginilah susana di mobil zaky, banyak tawa, tak ada tangis, ada yang belajar, ada yang tidur, ada yang sibuk, ada yang makan, ada yang nyetir. Seenggaknya aku gamual selama perjalanan ke Samarinda, mungkin gara gara selama perjalanan kerjaanku Cuma ketawa, makan dan ngetweet.
Bersambung loooh !!